|
Ubud adalah sebuah desa kelurahan, membawahi 13
(tiga belas) banjar dinas yang terdiri dari 6 (enam) desa adat,
termasuk kecamatan Ubud, Kabupaten
Gianyar dengan jarak 20 km dari kota Denpasar,
Ubud dapat dicapai dalam 30 menit atau 15 menit dari kota Gianyar.
Dengan ketinggian sekitar 300 meter di atas permukaan
laut, Ubud memiliki udara lebih sejuk dari daerah dataran Bali asli
selatan. Kelurahan Ubud berpenduduk sekitar 9.800 jiwa. Dengan lingkungan
yang masih alami, daerah ini merupakan daerah sumber inspirasi bagi
para seniman, termasuk seniman luar negeri, terutama seniman Eropa.
Ubud disamping memiliki alam yang indah, daerah ini juga merupakan
sebuah desa budaya yang kaya dengan warisan sejarah para seniman
besar, terutama para pelukis terkenal, misalnya I Gusti Nyoman Lempad
(1862-1978), Anak Agung Gde Sobrat (1919-1992), I Gusti Made Deblog
(1910-1986), kemudian disusul oleh yang lain seperti, I Gusti Ketut
Kobot, Ida Bagus Made, Dewa Putu Bedil, Ida Bagus Rai dan lain sebagainya.
Ketenaran para pelukis tersebut di atas ikut memberikan inspirasi
terhadap para pelukis barat untuk berdomisili di desa Ubud.
Sekitar tahun 1920-an, dua pelukis Eropa yaitu Rudolf Bonnet dari
negeri Belanda, dan Walter Spies dari Jerman menggoreskan sejarah
baru perkembangan seni lukis di daerah Ubud. Kedua pelukis Eropa
tersebut memperkenalkan teknik estetika Eropa terutama di bidang
pencahayaan, bayangan, perspektif dan anatomi. Para pelukis lokal
menyerap tehnik-tehnik baru yang sesuai dengan nilai dasar dan pikiran
lokal dengan tetap mengambil tema tradisional sehingga mampu memberi
identitas tersendiri dengan nama gaya Ubud atau Style Ubud.
Desa Ubud menjadi semakin terkenal sebagai daerah
kelahiran para seniman lukis berkat adanya kerjasama antara Tjokordo
Gde Agung Sukawati dengan Rudolf Bonnet untuk membentuk sebuah perkumpulan
seniman dengan nama Pita Maha, yang juga ikut membidani lahirnya
Pita Maha adalah Tjokordo Gde Raka Sukawati, I Gisti Nyoman Lempad
pada tahun 1936. Pita Maha merupakan sebuah perkumpulan dan wadah
untuk mendiskusikan masalah dan perkembangan seni lukis, serta untuk
saling bertukar pikiran dan memperkenalkan hasil seni yang mereka
miliki.
Dalam perkembangannya kemudian, atas prakarsa Ida Tjokordo Gde Agung
Sukawati yang didukung oleh Rudolf Bonnet, pelukis kelahiran Nederland
dan juga para pelukis setempat merencanakan mendirikan sebuah musium.
Yayasan Ratna Wartha yang dibentuk sebelumnya diberikan tugas untuk
melaksanakan pembangunan dan pengelolaan museum tersebut. Pada tahun
1945 mulailah pembangunan museum itu yang mana peletakan batu pertama
dilakukan oleh Perdana Menteri Ali Sustroamidjoyo. Dalam kurun waktu
dua tahun, tepatnya pada tahun 1956 museum tersebut dibuka oleh
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mr.Moh.Yamin
Sebagai daerah tujuan wisata, Ubud memiliki banyak objek yang menarik
bagi wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara. Beberapa diantara
objek tersebut adalah Puri Saren, yang terletak di Puri Ubud, pasar
seni tradisional, Monkey
Forest (Wenara Wana) dan museum.
|