Sewa mobil murah Bali / rent car murah Bali,
charter mobil murah Bali, rent car self drive atau dengan pengemudi pariwsata
di Bali, jasa sewa mobil / car rental murah di Bali, tersedia Suzuki APV, Toyota
Avanza, Daihatsu Xenia, Toyota Kijang, Toyota Innoa, Mini Bus, Suzuki Karimun,
Toyota Alphard. Charter mobil murah di Bali sudah termasuk BBM dan pengemudi
pariwsata. Pesan hotel murah di kuta, sanur, legian, jimbaran, nusa dua, beli
voucher bali watersport, parasailing, tour ke pulau penyu, rafting, adventure
di Bali harga murah.
Bali
Paket Tour
Tidak cukup untuk
mengenal, tahu dan akhirnya jatuh cinta dengan Pulau Bali berikut
budaya, tradisi dan keramah tamahan penduduknya hanya tinggal
di dalam hotel saja. Kami menawarkan porgram tour di Bali, yang
memberikan dan menunjukkan kehidupan sehari-hari masyarakat Bali
secara real, langsung berinteraksi dengan masyarakat apa aktivitasnya
sehari-hari mereka. Silahkan pilih program kami sesuai budget
Anda
Untuk mendapatkan
harga SPECIAL GROUP
silahkan hubungi
kami
Silahkan
simak informasi seputar Pulau Bali dalam beberapa artikel,
Anda akan mengenal Bali lebih dekat, akan jatuh cinta
sama Pulau Bali dan akhirnya mari kita sama-sama menjaga
Bali biar tetap aman damai dan tetap menjadi pilihan sebagai
tempat untuk berlibur. Tentunya kami mengharapkan kunjungan
liburan Anda ke Bali, pulau yang kami cintai.
Dapatkan bingkisan oleh-oleh khas Bali berupa Kacang
Disco setiap sewa mobil charter di Surga
Bali.Biz periode liburan Juni, Juli,Agustus 2009. Kacang
Disco, oleh-oleh khas Bali rasanya gurih, nikmat dan bikin lidah bergoyang,
cocok dinikmati saat santai atau relax.
Charter 10 jam hanya Rp.400.000 sudah termasuk pengemudi pariwisata dan
BBM.
Harga promo sewa mobil ini memang jujur dan
murah, dikemudikan oleh pengemudi pariwisata/guide. Hubungi Hotline : 0361 9191543 SMS: 085 737 187
321
Pura Besakih - Bali Obyek Wisata
Inilah asal mulanya ada Besakih, sebelum ada apa-apa hanya terdapat
kayu-kayuan serta hutan belantara di tempat itu, demikian pula sebelum
ada Segara Rupek (Selat Bali). Pulau Bali dan pulau Jawa dahulu
masih menjadi satu dan belum dipisahkan oleh laut. Pulau itu panjang
dan bernama Pulau Dawa. Di Jawa Timur yaitu di Gunung Rawang (sekarang
dikenal dengan nama Gunung Raung) ada seorang Yogi atau pertapa
yang bernama Resi Markandeya.
Beliau berasal dan Hindustan (India), oleh para pengikutnya disebut
Batara Giri Rawang karena kesucian rohani, kecakapan dan kebijaksanaannya
(sakti sidhi ngucap). Pada mulanya Sang Yogi Markandeya bertapa
di gunung Demulung, kemudian pindah ke gunung Hyang (konon gunung
Hyang itu adalah DIYENG di Jawa Tengah yang berasal dan kata DI
HYANG). Sekian lamanya beliau bertapa di sana, mendapat titah dari
Hyang Widhi Wasa agar beliau dan para pengikutnya merabas hutan
di pulau Dawa setelah selesai, agar tanah itu dibagi-bagikan kepada
para pengikutnya.
Sang Yogi Markandeya melaksanakan titah itu dan segera berangkat
ke arah timur bersama para pengiring-pengiringnya kurang lebih sejumlah
8000 orang. Setelah tiba di tempat yang dituju Sang Yogi Markandeya
menyuruh semua para pengiringnya bekerja merabas hutan belantara,
dilaksanakan sebagai mana mestinya.
Saat merabas hutan, banyak para pengiring Sang Yogi Markandeya yang
sakit, lalu mati dan ada juga yang mati dimakan binatang buas, karena
tidak didahului dengan upacara
yadnya (bebanten / sesaji)
Kemudian perabasan hutan dihentikan dan Sang Yogi Markandeya kembali
lagi ke tempat pertapaannya semula (Konon ke gunung Raung di Jawa
Timur. Selama beberapa waktu Sang Yogi Markandeya tinggal di gunung
Raung. Pada suatu hari yang dipandang baik (Dewasa Ayu) beliau kembali
ingin melanjutkan perabasan hutan itu untuk pembukaan daerah baru,
disertai oleh para resi dan pertapa yang akan diajak bersama-sama
memohon wara nugraha kehadapan Hyang Widhi Wasa bagi keberhasilan
pekerjaan ini. Kali ini para pengikutnya berjumlah 4000 orang yang
berasal dan Desa Age (penduduk di kaki gunung Raung) dengan membawa
alat-alat pertanian selengkapnya termasuk bibit-bibit yang akan
ditanam di hutan yang akan dirabas itu. Setelah tiba di tempat yang
dituju, Sang Yogi Markandeya segera melakukan tapa yoga semadi bersama-sama
para yogi lainnya dan mempersembahkan upacara
yadnya (sesajen), yaitu
Dewa Yadnya dan Buta Yadnya. Setelah upacara itu selesai, para pengikutnya
disuruh bekerja melanjutkan perabasan hutan tersebut, menebang pohon-pohonan
dan lain-lainnya mulai dan selatan ke utara. Karena dipandang sudah
cukup banyak hutan yang dirabas, maka berkat asung wara nugraha
Hyang Widhi Wasa, Sang Yogi Markandeya memerintahkan agar perabasan
hutan, itu dihentikan dan beliau mulai mengadakan pembagian-pembagian
tanah untuk para pengikut-pengikutnya masing-masing dijadikan sawah,
tegal dan perumahan.
Di tempat di mana dimulai perabasan hutan itu Sang Yogi Markandeya
menanam kendi (payuk) berisi air, juga Pancadatu yaitu berupa logam
emas, perak, tembaga, besi dan perunggu disertai permata Mirah Adi
(permata utama) dan upakara (bebanten / sesajen)
selengkapnya diperciki tirta
Pangentas (air suci). Tempat di mana sarana-sarana itu ditanam diberi
nama BASUKI. Sejak saat itu para pengikut Sang Yogi Markandeya yang
datang pada waktu-waktu berikutnya serta merabas hutan untuk pembukaan
wilayah baru, tidak lagi ditimpa bencana sebagai mana yang pernah
dialami dahulu. Demikianlah sedikit kutipan dari lontar Markandeya
Purana tentang asal mula adanya desa dan pura Besakih yang seperti
disebutkan terdahulu bernama Basuki dan dalam perkembangannya kemudian
sampai hari ini bernama Besakih.
Mungkin berdasarkan pengalaman tersebut, dan juga berdasarkan apa
yang tercantum dalam ajaran-ajaran agama Hindu
tentang Panca Yadnya, sampai saat ini setiap kali umat Hindu akan
membangun sesuatu bangunan baik rumah, warung, kantor-kantor sampai
kepada pembangunan Pura, demikian pula memulai bekerja di sawah
ataupun di perusahaan-perusahaan, terlebih dahulu mereka mengadakan
upakara yadnya seperti Nasarin atau Mendem Dasar Bangunan. Setelah
itu barulah pekerjaan dimulai, dengan pengharapan agar mendapatkan
keberhasilan secara spiritual keagamaan Hindu
di samping usaha-usaha yang dikerjakan dengan tenaga-tenaga fisik
serta kecakapan atau keahlian yang mereka miliki. Selanjutnya memperhatikan
isi lontar Markandeya Purana itu tadi dan dihubungkan pula dengan
kenyataan-kenyataan yang dapat kita saksikan sehari-hari sampai
saat ini tentang tata kehidupan masyarakat khususnya dalam hal pengaturan
desa adat dan subak
di persawahan. Oleh karena itu dapat kita simpulkan bahwa Besakih
adalah tempat pertama para leluhur kita yang pindah dari gunung
Raung di Jawa Timur mula-mula membangun suatu desa
dan lapangan pekerjaan khususnya dalam bidang pertanian dan peternakan.
Demikian pula mengembangkan ajaran-ajaran agama Hindu.
Transfer area :
Kuta, Legian, Seminyak, Nusa
Dua, Jimbaran,
Sanur. Harga sudah termasuk mobil,
pengemudi, BBM, tidak termasuk parkir, tiket masuk dan retribusi
daerah lainnya. Harga tidak termasuk travel insurance.