|
Di kalangan pengamat bahasa-bahasa etnis, keluar
teori yang menyebutkan bahwa bahasa
Bali sebagai bahasa etnis, akan mati pada tahun 2041. Tinggal
satu geerasi lagi, Teori ini menjadi semacam ramalan; bisa ya
dan bisa tidak. Tetapi jangan meremehkan, karena sudah lebih dari
350 bahasa etnis di dunia mati. Nasib bahasa
Bali diperkirakan lebih buruk dari bahasa Sanskrit (Sansekerta).
Bahasa Sansekerta tidak mati , tetapi tidak lagi menjadi bahasa
pergaulan, tinggal menjadi bahasa agama (khususnya Hindu),
karena kitab suci Weda memakai bahasa itu. Di India ada 35 bahasa
etnis yang tergolong besar yang menjadi bahasa pergaulan, Sansekerta
tidak termasuk didalamnya.
Mirip denan bahasa Sansekerta adalah bahasa Jawa Kuno, di Bali
sering kali disebut bahasa Kawi. Bahasa ini sudah mati sebagai
bahasa pergalulan, tetapi masih hidup mengap-mengap sebagai bahasa
seni (para dalang wayang kulit selalu mempelajari bahasa ini)
dan bahasa ilmu pengetahuan kususnya yang berkaitan dengan kebudayaan
Jawa Hindu. Banyak terjemahan Weda dan tafsir-tafsir Weda yang
mengunakan bahasa Jawa Kuno, baik dalam bentuk prosa maupun puisi,
dibuat oleh pujangga-pujangga Hindu di zaman kerajaan Kediri dan
Majapahit. Warisan kitab ini pun banyak ada di Bali, misalnya
kekawin Ramayana.
Kenapa bahasa Jawa Kuno mati sebagai bahasa pergaulan? Karena
pemeluk agama Hindu mulai berkurang. Bahasa Jawa Kuno mengalami
perubahan yang disubut dengan bahasa pertenggahan, kemudian Jawa
Pesisir, lalu menjadi Jawa Baru, kemudian menjadi bahasa Jawa
yang kini menjadi bahasa pergaulan.
Bahasa Bali bernasib lebih buruk dari bahasa Sansekerta dan bisa
jadi nanti menjadi lebih buruk dari bahasa Kawi. Apa argumennya?
Karena bahasa Bali bukan bahaa Weda. Dulu memang ada anggapan,
semasih agama Hindu dipeluk penduduk
Bali, bahasa Bali
pasti tetap hidup. Belakanggan anggapan tersebut mulai berkurang,
karena sudah banyak sekali ritual yang memakai bahasa Bali diganti
mantranya ke bahasa Sansekerta. Saat ini para orang suci Hindu
sudah lancar melafalkan mantram yang langsung berbahasa Sansekerta.
Alasanlebih buruk dari bahasa Kawi, karena sangat sedikit ada
tafsir-tafsir Weda yang menggunaan bahasa Bali. Jangankan tafsir,
terjemahan Weda ke dalam bahasa
Bali juga jarang. Kalau suatu saat bahasa Bali tidak lagi
menajdi bahasa pergaulan, bagaimana menjadi bahasa ilmu kalau
jejaknya tidak ada.
Pertanyaan selanjutnya kenapa bahasa Bali “dramalkan”
tidak lagi menjadi bahasa ergaulan? Kenyataan yang terjadi sudah
seperti itu. Ada serangan dari dalam dan ada serangan dari luar.
Dari dalam, orang Bali (juga took panutan) sudah mulai rikuh berbahasa
Bali karena dikesankan bahasa
Bali itu angker dan harus ada sor singgih (tingkat-tingkat
bahasa). Masa ada kerikungan berbahasa Bali hanyakarena masalah
klan atau wangsa (kasta).
Bahasa Jawa pun ada sor-singgih (tingkatan), namun sebagai bahasa
pergaulan dipakai bahasa yang elagiter.
Banyak pemimpin di Bali yang omong doing bagaimana melestarikan
bahasa Bali tetapi tidak ada action langsung dan nyata. Mereka
bicara ajeg Bali, yang berarti juga mengajegkan bahasa Bali. Namun,
uang APBN dihabiskan untuk studi banding soal batubara dan persoalan
lain yang tidak relevan dengan gumi Bali. Syukurlah sekarang sudah
mulai ada beberapa media electronic maupun cetak yang memakai
bahasa Bali sebagai
wujud nyata melestarikan bahasa Bali. Harapan kita, semoga bahasa
Bali sebagai bahasa etnis yang merupakan kekayaan budaya bangsa
Indonesia tidak punah, melainkan tetap lestari. Karenanya, kami
mengajak para netter untuk melestarikan bahasa
Bali dengan belajar bahasa Bali click
di sini.
|